Sunday 18 December 2022

Menulis Epilog Novel Arunika di 0 Kilometer Coffee and Tea Yogyakarta



Sebenarnya, tidak ada rencana keluar di hari terakhir di Yogyakarta. Hem, ada rencana keluar sekadar membeli bakpia saja untuk oleh-oleh. Namun, tiba-tiba saya ingin eksplore kafe lagi. Maka, saya ingin ke Pasar Beringharjo dulu, kemudian mencari kafe.

Ada beberapa rekomendasi kafe yang saya dapatkan di internet. Saya mencarinya dengan kata kunci “kafe di Malioboro”. Lalu, salah satu laman muncul mengenai kafe di titik nol kilometer Yogyakarta, yang tidak jauh dari Malioboro. 

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari 0 Kilometer Coffee & Tea yang menurut informasi ada di sekitar Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Maka, setelah menjelajahi Pasar Beringharjo (niatnya cari sarapan di sini, tetapi hanya menemukan baju dan baju) saya berjalan kaki ke arah Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Sesampainya di perempatan, saya berhenti dan melihat map. 

Saya melihat kanan kiri, namun tidak menemukan yang saya cari. Saya melihat map lagi dan mencocokan dengan gedung BNI yang ada di perempatan itu. Akhirnya, saya memutuskan menyeberang dan berdiri di depan gedung Pos Indonesia. Ternyata, gedung Pos Indonesia itu ada kafe juga loh. Namanya Kopi Pos. Tapi, karena bukan ini tujuan saya maka lain kali akan saya coba kalau ke Jogja lagi.

Dari gedung Pos Indonesia jalan lurus ke arah gedung BNI, lalu belok kiri mengikuti trotoar. Dan, 0 Kilometer Coffee & Tea ada di belakang gedung BNI pas, bersebelahan dengan gedung perpustakaan. Itu berarti saya harus menyeberang.

0 Kilometer Coffee & Tea



Saya sangat excited masuk ke kafe ini. Dari luar terlihat pintu kafe yang desain kuno dan terlihat sangat Yogyakarta sekali. Lalu, di ruang pertama saya merasakan hawa dingin. Itu berarti ruangan ini ber-AC. Lalu, saya membuka pintu kedua. Di ruangan kedua ini merupakan ruangan semi-outdoor. Untuk memesan kopi pun ada di ruangan kedua. Bar ada di sebelah kiri, meja kayu besar dengan kursi-kursi mengelilinginya sebelah kanan. Sepertinya, pada sisi kanan ini merupakan tempat untuk pertemuan. Di depan bar terdapat meja dan sofa. Tak hanya kopi dan camilan lainnya. Di 0 Kilometer Coffee & Tea juga terdapat gelato.






Makanan dan Minuman



Menu yang ditawarkan beragam. Ada croissant, cake slice, makanan ringan dan berat. Pilihan kopi pun beragam. Namun, kafe ini lebih menonjolkan minumannya. Terlihat dari menu yang disajikan lebih banyak pilihan minuman daripada makanan berat. Saya rasa, memang cocok untuk dijadikan tempat sarapan. Lebih jelasnya, bisa cek menu di bawah ini.





Es Kopi Truntum



Es Kopi Truntum merupakan kopi susu gula aren. Untuk rasa kopinya cukup pekat. Kopi tersebut disajikan dalam cup yang kukuh, sehingga setelah kopi habis cup tersebut saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan, hehe. Layer yang dihasilkan dari perpaduan kopi, susu, dan gula aren pun cantik, sehingga saya tidak menyia-nyiakan untuk memfotonya.

Croissant Plain


Sebelumnya, saya makan croissant di Cinema Bakery. Secara jujur saya katakan untuk croissant lebih enak di Cinema Bakery apalagi dengan harga yang sama. Di 0 Kilometer Coffee & Tea croissant plain mereka mengingatkan saya akan croissant 5 Days lebih enak sedikit. 

Menyelesaikan Novel Arunika



Di kafe 0 Kilometer Coffee & Tea saya menulis akhir cerita novel Arunika. Tahu tidak, bahwa setiap kali saya ingin menyelesaikan novel saya, saya selalu galau karena takut mendapatkan komentar buruk dari pembaca. Sebelum ke Jogja, saya menyelesaikan novel di salah satu aplikasi dan mendapatkan komentar buruk sekali. Sampai akhirnya, saya tidak bisa tidur.

Maka, ketika menyelesaikan novel Arunika ini pun, saya merasakan hal yang sama. Tapi, bahkan sebelum novel Arunika saya tulis, saya sudah tahu bagaimana akhir cerita novel ini. Oleh sebab itu, saya tetap menuliskannya seperti tujuan awal.

Setelah selesai menulis, saya melanjutkan jalan-jalan ke Malioboro lagi, mengunjungi Teras Malioboro dan mencari oleh-oleh. 

Semoga nanti saya bisa jalan-jalan lagi ke Yogyakarta!

NB: Maaf, tidak ada foto ruang pertama (ber-AC), nanti saya sertakan videonya saja, ya. 
Friday 16 December 2022

Sarapan Gudeg Mbah Lindu, Menulis di Malio Gelato dan Loko Coffee Yogyakarta



Dari hari pertama di Yogyakarta, saya lebih banyak diajak main sama kepala redaksi dan editor. Sehingga, saya tidak benar-benar menulis novel Arunika. Paling-paling, saya membaca ulang dan mengeditnya. Nah, di dua hari terakhir saya di Yogyakarta, saya mulai mengeksplorasi kafe-kafe dan menikmati Jalan Malioboro.

Setelah jalan-jalan saya ke Malioboro tahun 2019 lalu. Kini, saya menikmati wajah Malioboro yang baru. Saya lupa tepatnya kapan, semua penjual di sisi kanan kiri jalan Malioboro dipindah ke tempat baru yang disebut dengan Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2. 

Memang, tidak ada hal yang istimewa di Jalan Malioboro. Di sana sekadar jalan dengan sisi kanan kiri yang difasilitasi trotoar dengan kursi-kursi yang lampu jalan. Namun, bagi saya Jalan Malioboro merupakan jalan yang sangat nyaman untuk saya pergunakan jalan kaki. Saya sangat suka berjalan kaki. Pada tahun 2019, saya bahkan jalan kaki dari Tugu Yogyakarta sampai ke alun-alun Yogyakarta yang ada dua pohon kembar itu. Waktu itu, saya bersama adik.

Kedatangan saya ke Malioboro hari ini adalah ingin menikmati perjalanan di trotoar Malioboro dan mencoba Loko Coffee yang ada di stasiun Tugu. Tak hanya itu, saya datang pagi-pagi karena ingin sarapan nasi gudeg Mbah Lindu. Tahun 2019 lalu, saya sudah mencobanya dan cocok, makanya saya tidak mau melewatkannya kali ini.

Perjalanan Dari Kantor Baciro


Kantor penerbit ada di Baciro, sehingga saya menuju gudeg Mbah Lindu dari sana menggunakan gojek. Biayanya cukup murah yaitu dengan harga normal Rp 12.000,-. Tapi, waktu itu saya dapat diskon sehingga hanya membayar Rp 6.000,- saja.

Saya ingat, waktu itu hari Minggu pagi. Di Jalan Malioboro sedang ada acara sehingga jalan ditutup total. Maka, driver Gojek mencari jalan memutar. Di saat itu, saya mengetahui lokasi Loko Coffee yang ternyata berdekatan dengan Jalan Malioboro. 

Setelah melalui jalan memutar, akhirnya saya sampai di nasi Gudeg Mbah Lindu yang berjualan di emperan. Seingat saya, dulu tidak ada tempat makannya. Tapi, kali ini ada ruangan untuk makan. Namun, saat itu sudah ramai pengunjung sehingga saya tidak bisa makan di dalam. Saya duduk di kursi yang ada di tepi jalan.


Saya memesan nasi gudeg dengan lauk telur. Harga yang saya bayar Rp 20.000-, tidak berubah sejak 2019 lalu. Sebagai catatan, saya tidak membeli minum. Hehe.



Selesai sarapan gudeg, saya melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Dalam pikiran saya hari itu, saya ingin gelato di Tempo Gelato. Nyatanya, saya justru nyasar ke gelato yang ada di sekitaran Jalan Malioboro, hehe.

Malio gelato



Saat itu, hari sudah siang. Saya sudah berjalan-jalan di Malioboro, bahkan masuk ke ramayana dan Malioboro Mall. Keluar dari Malioboro mall, saya berpikir untuk mencari masjid. Dulu, saya pernah numpang salat di masjid di Jl. Malioboro. Tapi, kemarin saya tidak menemukannya. Lalu, saya melihat Malio Gelato. Kebetulan saya sedang haus dan lokasi Malio Gelato yang ala kafe, saya pun mampir.

Di Malio Gelato tidak hanya menyediakan gelato saja. Tapi, ada makanan besar, kopi, dan camilan. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Ada ruangan di dalam, teras, dan lantai atas. Saya sebenarnya hendak duduk di lantai atas, tetapi saat itu ada reservasi, sehingga saya duduk di teras.

Siang itu, saya melanjutkan menulis novel Arunika dan makan gelato. Ya, saya hanya pesan gelato saja, sebab saya berencana ke Loko Coffee untuk makan siang.

Harga gelato di Malio Gelato yakni 35K untuk dua scoop dan ada beberapa pilihan lainnya. Maaf, saya lupa.

Saya membeli yang dua scoop dengan dua rasa.

Loko Coffee Yogyakarta



Dari Malio Gelato, saya kembali berjalan kaki menuju Loko Coffee. Apabila kalian tahu tiang Malioboro yang fenomenal itu, nah di seberang itulah Loko Coffee berada.

Loko Coffee merupakan kafe yang disediakan oleh KAI. 





Bangunan Loko Coffee memiliki satu lantai dengan konsep semi-outdoor. Ada pula meja yang berada di gerbong kereta dan di luar. Saya memilih yang berada di dalam.

Untuk makanan dan minuman yang disediakan cukup terjangkau. Akan tetapi, untuk harga segitu kurang sih rasa makanan dan minumannya. Pembayaran bisa menggunakan uang tunai maupun elektronik. Memang ya, sekarang pakai Qris jadi lebih mudah. 






Hari itu saya memesan ice cappucino, spaghetti carbonara, dan es teh. 

Di sini tersedia toilet dan mushola juga. Saya menulis Arunika kurang lebih dua sampai tiga jam, setelah itu saya salat di musala yang disediakan.

Meskipun kopi dan makannya kurang untuk saya, tetapi saya ingin mampir lagi ke Loko Coffee Shop Yogyakarta. Ya, karena saya suka suasananya. Saya bisa melihat orang-orang berlalu-lalang dan kereta api lewat. Di Loko Coffee pengunjungnya kebanyakan orang-orang yang mampir dari stasiun maupun yang akan ke stasiun.

Ketika pulang ke Mojokerto, di stasiun Yogyakarta saya melihat ruangan yang sedang direnovasi. Di depan ruangan tersebut ada logo Loko Coffee. Wah, sepertinya di dalam stasiun pun akan ada kafe ini. Jadi ingin kembali ke Jogja, deh.
Wednesday 14 December 2022

Menulis Novel Arunika di Cinema Bakery Yogyakarta



Sejak awal, saya sudah berencana untuk berlibur ke Yogyakarta. Awalnya, saya ingin full liburan. Akan tetapi, ternyata kepada redaksi meminta untuk novel kedua dari saya. Maka dari itu, liburan kali ini sekaligus membicarakan mengenai novel Arunika di kantor penerbit yang ada di Yogyakarta.

Jadinya, perjalanan saya kali ini ke Yogyakarta, selain untuk liburan pun untuk menyelesaikan novel Arunika. 

Novel Arunika sudah saya tulis sampai bab 28 di Wattpad. Akan tetapi, ada beberapa hal yang mengganjal mengenai naskah tersebut. Maka, saya membicarakan kembali dengan editor dan kepala redaksi, sekaligus menuntaskan novel sampai epilog.

Kali ini, saya melanjutkan menulis novel Arunika di sebuah kafe kue yang ada di daerah Sleman, Yogyakarta. Kata Mbak Editor, tempat ini mengingatkannya akan novel Madeira yang merupakan sebuah toko kue. 

Konsep Cinema Bakery nyaris seperti Madeira Bakery yaitu menyediakan kue-kue dan minuman.

Baik, mari kita membahas mengenai Cinema Bakery.

Cinema Bakery Yogyakarta



Cinema Bakery sebuah toko kue sekaligus cafe. Di sini tidak hanya menyediakan makanan manis, pun ada makanan gurih, serta minuman. 







Bangunan dari Cinema Bakery terlihat seperti rumah tua dengan halaman luas. Di sisi kiri bangunan terdapat taman dan kursi-kursi untuk menikmati kue yang kamu pesan. Ada juga ruangan yang semi-outdoor.







Di dalam toko terdapat etalase kaca yang menyediakan berbagai macam kue ataupun cake. Ada macaron, cake, croissant, marshmallow, permen, bahkan ada gelato. Di kasir, kamu juga bisa memesan minuman seperti kopi, strawberry shake, dan lainnya.




Sebagai informasi, setiap kamu membeli kue atau makanan di sini akan mendapatkan air mineral gratis. Sehingga, tanpa membeli minuman sendiri pun kamu bisa memesan kue saja.

Hal yang menyenangkan adalah banyak pilihan cake yang bisa kamu pilih. Untuk croissant pun memiliki banyak varian, sehingga kamu pasti bingung memilihnya.


Saya pribadi memesan croissant danis yaitu croissant melingkar dengan kismis. Rasanya gurih, lembut, dan mengenyangkan. Sangat cocok untuk sarapan hari itu. Harganya pun relatif murah yaitu Rp. 18.000-, saja.


Untuk harga cake sendiri mulai dari Rp. 20.000-, per slice, ya. Pilihannya juga banyak sekali. Ada blackforest, cheese cake, dan lainnya. 

Cinema Bakery Yogyakarta buka mulai pukul tujuh pagi sampai jam delapan malam. Menurut informasi dari teman saya, setiap jam tujuh pagi dan jam tujuh malam ada diskon 50%.


Saran saya, datang pagi-pagi saja agar bisa memilih tempat duduk. Sebab, jam sembilan pagi sudah ramai pengunjung.

Menulis di sini sangat nyaman apalagi tempatnya sejuk dan teduh. Sayangnya, kemarin saya datang ramai-ramai sehingga tidak bisa terlalu lama.

Nanti kalau saya ke Yogyakarta lagi, saya pasti datang lagi!